Para ahli yang mengendalikan wahana peneliti Eropa, Mars Express, mengatakan pesawat tersebut mendeteksi es di kutub selatan Mars, sekaligus mengukuhkan tanda-tanda adanya air yang ditemukan beberapa wahana antariksa terdahulu.
Mereka mengatakan kamera Mars Express mampu memetakan bagian kutub Mars dengan menggunakan teknologi infra merah. Hasil pemetaan menunjukkan tempat-tempat yang mengandung molekul air.
Mars dikenal sebagai planet yang dingin. Di planet ini juga terdapat gurun-gurun kering. Namun, miliaran tahun yang lalu Mars diperkirakan hampir sama dengan keadaan bumi sekarang, hangat dan basah.
Para ahli juga memperkirakan dahulu kala di Mars terdapat sungai dan lautan. Banyak ahli yang percaya bahwa air tersebut berubah menjadi es dan berada di bawah permukaan.
Mars Express menunjukkan bukti langsung adanya air beku di Mars. Wahana milik Amerika, Mars Odyssey sebelumnya juga menemukan tanda-tanda yang sama, dengan mendeteksi hidrogen, salah satu komponen air, di kutub utara dan selatan Mars.
Penemuan paling baru ini menambah motivasi kerja para ilmuwan di Badan Ruang Angkasa Eropa, setelah wahana peneliti Inggris di Mars, Beagle 2, hilang.
Dalam perkembangan terpisah, sejumlah pakar di Badan Ruang Angkasa Amerika Serikat, NASA, mengatakan mereka menerima sinyal selama 10 menit dari wahana penjelajah di Mars, Spirit, setelah komunikasi terhenti pada Rabu (21/01/04).
Rabu, 25 November 2009
Astronom Temukan 'Planet Baru'
Para astronom telah mendeteksi objek yang mungkin merupakan planet ke-10 Tata Surya. Objek itu ditemukan lebih jauh dari planet-planet lain dengan Teleskop Angkasa Luar, Spitzer, dan dinamai Sedna, dengan meminjam nama dewi lautan suku Inuit.
Observasi memperlihatkan, planet berdiameter sekitar 2.000 km, dan bahkan mungkin lebih besar daripada Pluto, yang berdiameter 2.250 km.
Mungkin akan muncul perdebatan apakah objek itu bisa disebut sebagai planet sejati, namun sejumlah astronom telah menyebut objek itu mendefenisikan kembali sistem tatasurya.
Teleskop angkasa luar Hubble juga telah menyaksikan objek itu.
Rincian penemuan ini akan diumumkan oleh Badan Angkasa Luar Amerika Serikat, NASA, hari Senin.
Karang dan es
Sedna merupakan objek terbesar yang mengelilingi Matahari, sejak ditemukannya Pluto tahun 1930. Dimensi objek itu masih belum dipastikan.
Salah seorang astronom mengatakan kepada BBC News Online, bahwa Sedna mungkin lebih besar dari Pluto.
Objek itu ditemukan dalam survey yang dipimimpin oleh Dr Michael Brown dari
California Institute of Technology. Para ilmuwan baru menyelesaikan setengah dari keseluruhan proyek yang berlangsung 3 tahun ini.
Perhitungan awal memperkirakan bahwa Sedna berada 10 miliar km dari Bumi di kawasan angkasa luar yang dinamai Kuiper Belt, atau Sabuk Kuiper (KB).
KB memuat ratusan objeks yang telah diketahui, dan para astronom yakin masih banyak yang akan ditemukan. Sebagian besar adalah objek batu karang dan es, namun, seperti Sedna, mungkin bisa sebesar atau lebih besar daripada Pluto.
Ditemukannya Sedna ini bernilai penting, karena ini kali pertama objek semacam itu ditemukan dalam orbit normalnya. Sejumlah objek lain semacam, yang lebih kecil, seperti Quaoar dan Varuna, berasal dari KB, namun kemudian tergeser ke orbit lain.
Perdebatan
Menyusul penemuan objek tersebut, para astronom di Observatorium Tenagra, Arizona, diminta memberikan informasi posisional, sehingga orbit Sedna bisa ditentukan.
Penemuan baru ini akan memicu perdebatan tentang definisi planet.
Sekelompok astronom yakin Pluto bukanlah planet sejati, namun hanya objek terbesar dari sejumlah besar objek kecil di bagian luar Tata Surya.
Pandangan lain menyatakan, Pluto merupakan planet, dan mereka yang memegang pendapat ini harus mencatat Sedna sebagai planet ke-10.
sumber: bbcindonesia.com
Observasi memperlihatkan, planet berdiameter sekitar 2.000 km, dan bahkan mungkin lebih besar daripada Pluto, yang berdiameter 2.250 km.
Mungkin akan muncul perdebatan apakah objek itu bisa disebut sebagai planet sejati, namun sejumlah astronom telah menyebut objek itu mendefenisikan kembali sistem tatasurya.
Teleskop angkasa luar Hubble juga telah menyaksikan objek itu.
Rincian penemuan ini akan diumumkan oleh Badan Angkasa Luar Amerika Serikat, NASA, hari Senin.
Karang dan es
Sedna merupakan objek terbesar yang mengelilingi Matahari, sejak ditemukannya Pluto tahun 1930. Dimensi objek itu masih belum dipastikan.
Salah seorang astronom mengatakan kepada BBC News Online, bahwa Sedna mungkin lebih besar dari Pluto.
Objek itu ditemukan dalam survey yang dipimimpin oleh Dr Michael Brown dari
California Institute of Technology. Para ilmuwan baru menyelesaikan setengah dari keseluruhan proyek yang berlangsung 3 tahun ini.
Perhitungan awal memperkirakan bahwa Sedna berada 10 miliar km dari Bumi di kawasan angkasa luar yang dinamai Kuiper Belt, atau Sabuk Kuiper (KB).
KB memuat ratusan objeks yang telah diketahui, dan para astronom yakin masih banyak yang akan ditemukan. Sebagian besar adalah objek batu karang dan es, namun, seperti Sedna, mungkin bisa sebesar atau lebih besar daripada Pluto.
Ditemukannya Sedna ini bernilai penting, karena ini kali pertama objek semacam itu ditemukan dalam orbit normalnya. Sejumlah objek lain semacam, yang lebih kecil, seperti Quaoar dan Varuna, berasal dari KB, namun kemudian tergeser ke orbit lain.
Perdebatan
Menyusul penemuan objek tersebut, para astronom di Observatorium Tenagra, Arizona, diminta memberikan informasi posisional, sehingga orbit Sedna bisa ditentukan.
Penemuan baru ini akan memicu perdebatan tentang definisi planet.
Sekelompok astronom yakin Pluto bukanlah planet sejati, namun hanya objek terbesar dari sejumlah besar objek kecil di bagian luar Tata Surya.
Pandangan lain menyatakan, Pluto merupakan planet, dan mereka yang memegang pendapat ini harus mencatat Sedna sebagai planet ke-10.
sumber: bbcindonesia.com
Ditemukan Gas Methana di Mars
Para astronom telah menemukan gas metana di atmosfir Planet Mars.
Ini adalah temuan yang mereka katakan penting karena gas metana ini antara lain dibuat oleh mikroba yang ada di dalam tanah.
Beberapa teleskop bumi telah mendeteksi adanya gas metana di Mars.
Sensor wahana antariksa yang mengorbit planet tersebut, Mars Express juga mendeteksi adanya gas tersebut.
Karena gas tersebut tidak bertahan lama di atmosfir Mars, dipastikan gas ini hilang dan kemudian muncul kembali.
Ada dua penjelasan mengenai fenomena ini dan salah satunya bisa dikatakan sensasional.
Gas metana berada di atmosfir Mars karena ledakan volkano, namun sejauh ini belum ditemukan adanya gunung berapi di Mars.
Kemungkinan lain adalah gas ini dihasilkan oleh bakteri, seperti halnya proses yang terjadi di bumi.
Jawaban pasti belum bisa dikeluarkan dan harus menunggu penelitian di Mars di masa mendatang.
Yang jelas, semakin banyak informasi didapat dari Mars, semakin besar pula kemungkinan adanya kehidupan di sana, dan mungkin saja, kehidupan itu sampai saat ini masih ada.
[sumber: BBC]
Ini adalah temuan yang mereka katakan penting karena gas metana ini antara lain dibuat oleh mikroba yang ada di dalam tanah.
Beberapa teleskop bumi telah mendeteksi adanya gas metana di Mars.
Sensor wahana antariksa yang mengorbit planet tersebut, Mars Express juga mendeteksi adanya gas tersebut.
Karena gas tersebut tidak bertahan lama di atmosfir Mars, dipastikan gas ini hilang dan kemudian muncul kembali.
Ada dua penjelasan mengenai fenomena ini dan salah satunya bisa dikatakan sensasional.
Gas metana berada di atmosfir Mars karena ledakan volkano, namun sejauh ini belum ditemukan adanya gunung berapi di Mars.
Kemungkinan lain adalah gas ini dihasilkan oleh bakteri, seperti halnya proses yang terjadi di bumi.
Jawaban pasti belum bisa dikeluarkan dan harus menunggu penelitian di Mars di masa mendatang.
Yang jelas, semakin banyak informasi didapat dari Mars, semakin besar pula kemungkinan adanya kehidupan di sana, dan mungkin saja, kehidupan itu sampai saat ini masih ada.
[sumber: BBC]
Ancaman Itu Datang dari Matahari
Matahari. Sinar dan panasnya tentu begitu penting bagi kelangsungan kehidupan di muka bumi ini sepanjang masa. Namun, di balik benderangnya benda langit itu tersembunyi ”sisi gelap” yang mengganggu kondisi di bumi, yaitu bintik hitam (sunspot) yang diikuti badai dan flare.
Sebagai pusat peredaran planet-planet di tata surya, matahari merupakan sumber energi bagi makhluk di bumi. Energi itu dihasilkan dari reaksi termonuklir untuk mengubah hidrogen menjadi helium yang terjadi di dekat inti matahari. Suhu di bagian pusat matahari yang terdiri dari gas berkerapatan 100 kali kerapatan air di bumi itu, mencapai 15 juta derajat Celsius.
Di dalam perut matahari terjadi rotasi dan aliran massa atau konveksi yang memengaruhi gaya magnetnya. Pada aktivitas tinggi, gaya magnet ini bisa terpelintir atau berpusar hingga menembus permukaan matahari membentuk ”kaki-kaki”, yang tampak bagai bintik hitam.
Bintik hitam matahari memiliki diameter sekitar 32.000 kilometer, umumnya terdiri dari dua bagian, yaitu bagian dalam yang disebut umbra, berdiameter 13.000 km atau seukuran diameter rata-rata bumi dan bagian luar disebut penumbra yang garis tengahnya kurang lebih 19.000 km. Suhu penumbra lebih panas dan warnanya lebih cerah dibanding umbra.
Suhu gas yang terbentuk di lapisan fotosfer dan kromosfer di atas kelompok bintik hitam itu naik sekitar 800ยบ Celsius di atas suhu normalnya. Akibatnya, gas ini memancarkan sinar lebih besar dibandingkan dengan gas di sekelilingnya.
Setelah beberapa hari, pelintiran magnetik ini terpecah menjadi beberapa pelintiran lebih tipis. Masing-masing bergerak melintasi permukaan ke berbagai arah hingga menghilang.
Seperti di bumi, di permukaan matahari pun terjadi badai. Badai matahari terjadi di daerah kromosfer dan korona—berada di atas kawasan munculnya bintik-bintik hitam. Beberapa badai matahari juga muncul ketika terjadi ledakan cahaya atau flare. Ketika flare muncul, terjadi pelepasan sejumlah besar energi. Umumnya, kian banyak bintik hitam terbentuk, maka flare pun makin banyak.
Dampak
Flare yang mengeluarkan partikel kecepatan tinggi dalam badai matahari menyebabkan timbulnya tekanan pada magnetosfer bumi hingga mengakibatkan badai magnetik di bumi. Fenomena ini mengganggu komunikasi radio dan membuat jarum kompas berputar liar di bumi.
Bintik hitam matahari dan flare, menurut Sri Kaloka, Kepala Pusat Pengamatan Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), telah menimbulkan dampak berarti di beberapa wilayah di bumi—terutama di lintang tinggi—karena meningkatnya elektron di lapisan ionosfer. Tahun 1980-an, misalnya, pembangkit listrik di Quebec, Kanada, padam akibat terpengaruh badai matahari.
Gangguan di lapisan ionosfer di ketinggian 60 km-6.000 km dari permukaan bumi ini juga menyebabkan kekacauan dalam penyampaian sinyal komunikasi frekuensi tinggi, yang menggunakan lapisan itu sebagai media pemantul sinyal. Sistem navigasi dengan satelit global positioning system menjadi tidak akurat.
Jumlah bintik hitam yang tampak dari pengamatan dari bumi bervariasi, dari 1-100 titik. Bintik ini butuh waktu 11 tahun untuk mencapai jumlah tertinggi, lalu menurun lagi. Periode ini disebut siklus bintik matahari.
Sri Kaloka mengingatkan, puncak jumlah bintik hitam dapat terjadi lagi tahun 2011. Karena itu, semua pihak yang berkaitan dengan potensi dampak hendaknya mengantisipasi.
Data pemantauan bintik matahari dan flare terpantau di Pusat Pengamatan Dirgantara Lapan di Tanjungsari, Sumedang, sejak stasiun itu beroperasi 1975. Data itu dapat dimanfaatkan semua pihak yang berkepentingan. Hasilnya dikirimkan ke Bank Data di Swiss, urai Sri.
Periode dingin
Dalam kondisi ekstrem, baik tinggi maupun rendah, bintik hitam atau flare memberi dampak buruk bagi kondisi di bumi. Saat ini kejadian bintik hitam, menurut Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Mezak Ratag, justru dalam titik terendah.
Bintik hitam adalah indikator aktivitas matahari. Bila sedikit jumlahnya, energi yang dipancarkan matahari berkurang, yaitu 0,1 persen pada cahaya tampak, tetapi bisa puluhan persen pada ultraviolet. Kejadian bintik matahari bisa berkurang akibat menurunnya aktivitas dinamo matahari, konveksi, dan atau tekanan radiasi dari reaksi nuklir di pusat matahari.
Dalam beberapa tahun terakhir terjadi anomali aktivitas matahari itu. ”Hanya beberapa hari saja dalam dua tahun terakhir ini terpantau aktivitas bintik matahari,” ujar Mezak. Kondisi permukaan matahari hampir tanpa sunspot dalam beberapa tahun terakhir itu dikhawatirkan mengarah pada minimum Maunder kedua setelah kejadian pendinginan global sekitar tahun 1600-an.
Rendahnya aktivitas matahari berarti berkurangnya suplai panas ke bumi secara rata-rata global dalam skala waktu tahunan— bukan harian atau bulanan. Akan tetapi, pemanasan lokal masih bisa terjadi. Seperti beberapa bulan terakhir, suhu laut di bagian timur agak hangat, urai Mezak.
Berkurangnya suplai energi dari matahari pada bumi menyebabkan berkurangnya pemanasan lautan, berarti pula penguapan air laut yang akan menjadi hujan pun rendah.
Menurunnya suplai energi matahari juga melemahkan monsun. Gerakan angin monsun terjadi karena perbedaan panas antarlautan dan benua berdasarkan posisi garis edar matahari.
Pengaruh matahari ini tidak berkorelasi dengan peningkatan suhu udara beberapa pekan terakhir. Tingginya suhu udara di bumi disebabkan tingginya uap air, tetapi sedikit yang terbentuk menjadi awan, sedangkan matahari sudah di lintang selatan. Cahaya matahari sampai ke permukaan bumi tanpa halangan awan. Namun, inframerah yang dipancarkan ke bumi tertahan uap air sehingga menaikkan suhu. Uap air banyak dari laut.
Itu dijelaskan Mezak selaku Executive Panel Riset Monsun Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada pertemuan WMO di Beijing, Selasa (21/10), berdasarkan laporan sejumlah ilmuwan dari AS, China, dan Australia. Mereka mengatakan, ada tren pelemahan monsun di berbagai tempat di bumi. ”Di Indonesia, kondisi itu mengakibatkan pelemahan monsun rata-rata dalam beberapa tahun terakhir, tetapi variasinya dari tahun ke tahun bisa besar,” tambahnya.
Senin (20/10), Pusat Data Aktivitas Matahari (SIDC) di Belgia menghentikan peringatan ”All Quiet Alert”, karena peneliti di sana mendeteksi adanya aktivitas di matahari. Namun, laporan ini belum final, mengingat banyak pakar astrofisika matahari meyakini perioda aktivitas rendah ini masih akan berlangsung lama hingga berdampak pendinginan global (global cooling).
Pada kondisi belakangan ini, China mengalami musim dingin paling dingin dalam 100 tahun terakhir, Amerika Utara mencatat rekor tinggi salju, Inggris mengalami April terdingin.
Kondisi ini bukan pertama kali ini terjadi. Dari catatan sejarah, tahun 1645-1715 matahari hampir tanpa bintik, aktivitasnya sangat lemah. Pada kurun waktu itu, suhu permukaan global sangat rendah sehingga dinamakan Zaman Es Kecil.
Yuni Ikawati
kompas.com
Langganan:
Postingan (Atom)




